Penataan Ruang Kebupaten Lebak

Penataan Ruang Kabupaten Lebak

Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya.

Download File : Penataan Ruang Kabupaten Lebak

Dalam melaksanakan amanat undang-undang dimaksud Kabupaten Lebak dengan luas wilayah 304.472 ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan penyusunan Rencana Tata Rang Wilayah Kabupaten yang dijabarkan kedalam rencana tata ruang kecamatan serta kawasan strategis. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 10 kecamatan. Kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Warunggunung, Maja, Cimarga, Sajira, Malingping, Panggarangan, Bayah, Cibeber dan Cilograng. Sedangkan kecamatan yang belum memilki rencana tata ruang adalah Kecamatan Cibadak, Kalanganyar, Cikulur, Cipanas, Curugbitung, Lebakgedong, Bojongmanik, Muncang, Sobang, Leuwidamar, Gunungkencana, Cileles, Banjarsari, Wanasalam, Cijaku, Cigemblong, Cihara, dan Cirinten.
Berdasarkan intensitas dan frekuensi yang terjadi saat ini, di Kabupaten Lebak bagian Utara mempunyai intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian Tengah maupun Selatan. Oleh karena itu dengan didasari pertimbangan intensitas kegiatan, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur pemanfaatan ruangannya terbagi dalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang. Kedua wilayah ini bila ditinjau berdasarkan karakteristiknya terdiri dari 7 (tujuh) wilayah pengembangan. Pengembangan sistem perwilayahan sebagaimana tergambar pada tabel 1.1

Tabel 1.1
Sistem Perwilayahan Kabupaten Lebak
Perwilayahan Pembangunan    Kecamatan    Pusat Pertumbuhan    Hirarki           Fungsi Kawasan
WP Utara
Rangkasbitung    Kota Rangkasbitung    I    Pusat pemerintahan Kabupaten
Maja    Kota Maja    I    Terminal regional
Caibadak    Kota Cibadak    II    Pusat permukiman perkotaan
Kalanganyar        III    Pusat pelayanan & jasa regional
Warunggunung        III    Pusat pendidikan
Cikulur        III    Pusat industri kecil
Cimarga        III    Pusat perdagangan
Curugbitung        III
Sajira        III
WP Timur
Cipanas    Kota Cipanas    II    Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian
Leuwidamar    Kota Leuwidamar    II    Industri kecil/home industri
Muncang        III    Pengembangan permukiman kota terbatas
Sobang        III    Pengembangan permukiman perdesaan tersebar
Lebak Gedong        III    Pusat  pengembangan pariwisata
Cirinten        III    Konservasi hutan
Bojongmanik        III
WP Barat
Gunung Kencana    Kota Gunung Kencana    II    Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian
Cileles        III    Industri kecil/home industri
Banjarsari        III    Pengembangan permukiman perdesaan
WP Selatan
Malingping    Kota Malingping    I    Pusat pelayanan sosial ekonomi sub regional
Bayah    Kota Bayah    I    Sub terminal regional
Panggarangan    Kota Panggarangan    II    Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian
Cijaku        III    Industri kecil
Wanasalam        III    Pariwisata
Cibeber        III    Pusat pendaratan dan pelelangan ikan
Cilograng        III    Pengolahan hasil laut
Cigemblong        III    Pertambangan bersyarat
Cihara        III
Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028

Sedangkan rencana pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 (dua) fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah 97.226 Ha (kawasan lindung) dan 188.770 Ha (kawasan budidaya). Lihat tabel 1.2  dan 2.97 mengenai rencana pemanfaatan ruang Kabupaten Lebak.

Tabel 1.2
Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Lebak
Rencana Pemanfaatan Ruang    Luas (Ha)    Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak
Kawasan Lindung:    97.226    33,98
–  Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya    63.845    22,32
–   Kawasan perlindungan setempat    10.595    3,70
–   Kawasan suaka alam dan cagar budaya    21.482    7,51
–   Kawasan rawan bencana    1.300    0,45

Kawasan Budidaya:    188.770    66,01
– Pertanian    153.485    53,67
– Non pertanian    35.285    12,34
Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028

Tabel 1.3
Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Kabupaten Lebak
Rencana Pemanfaatan Ruang    Luas (Ha)    Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak
Kawasan Pertanian:    153.485    53,66
– Pertanian lahan basah (Padi sawah, perikanan darat    17.400    6,08
– Pertanian lahan kering (Tanaman pangan lahan kering, tanaman keras tahunan dan peternakan)    136.085    47,58

Kawasan Non Pertanian:    35.285    12,34
– Kawasan permukiman    28.835    10,08
– Kawasan industri    2000    0,70
– Kawasan pariwisata    4.450    1,36
Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028

Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya.
Dalam melaksanakan amanat undang-undang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kabupaten Lebak dengan luas wilayah 304.472 ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan revisi penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Selanjutnya secara berkelanjutan, RTRW Kabupaten Lebak terus dilengkapi dengan rencana tata ruang turunannya seperti Rencana Detail dan Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan. Hal ini perlu dilakukan untuk terus melaksanakan kegiatan penataan ruang yang efektif, efisien, berwawasan lingkungan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 12 kecamatan atau 39,28 %. Berikut status Kecamatam-kecamatan yang sudah dan belum ada RUTR-nya :

Tabel 1.4
Daftar Status Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan
di Wilayah Kabupaten Lebak
No.    Kecamatan    Status Dokumen RUTR
1    Rangkasbitung    Sudah diperdakan
2    Cipanas    Sudah, belum di-perda-kan
3    Muncang    Sudah, belum di-perda-kan
4    Banjarsari    Sudah, belum di-perda-kan
5    Warunggunung    Sudah, belum di-perda-kan
6    Sajira    Sudah, belum di-perda-kan
7    Maja    Sudah, belum di-perda-kan
8    Bayah    Sudah, belum di-perda-kan
9    Cimarga    Sudah, belum di-perda-kan
10    Panggarangan    Sudah, belum di-perda-kan
11    Cilograng    Sudah, belum di-perda-kan
12    Malingping    Sudah, belum di-perda-kan
13    Cibeber    Sudah, belum di-perda-kan
14    Cibadak    Belum ada dokumen
15    Cikulur    Belum ada dokumen
16    Leuwidamar    Belum ada dokumen
17    Curugbitung    Belum ada dokumen
18    Bojongmanik    Belum ada dokumen
19    Sobang    Belum ada dokumen
20    Gunungkencana    Belum ada dokumen
21    Cimarga    Belum ada dokumen
22    Kalang Anyar    Belum ada dokumen
23    Cileles    Belum ada dokumen
24    Lebakgedong    Belum ada dokumen
25    Cigemblong    Belum ada dokumen
26    Cijaku    Belum ada dokumen
27    Cihara    Belum ada dokumen
28    Wanasalam    Belum ada dokumen

Sebelum berbicara jauh mengenai perencanaan tata ruang kabupaten Lebak, kita perlu mengenali terlebih dahulu Isu-isu strategis penyelenggaraan penataan ruang di Kabupaten Lebak. Adapun isu-isu tersebut diantaranya :
1.    Wilayah kabupaten yang sangat luas dengan ketinggian bervariasi meliputi dataran rendah, pegunungan dan pantai ;
2.    Penyebaran penduduk yang tidak merata dengan pertumbuhan yang relatif sedang;
3.    Potensi sumber daya alam terutama pertambangan  dan pariwisata yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal ;
4.    Prasarana wilayah yang masih kurang sehingga menyebabkan masih banyaknya desa tertinggal ;
5.    Pengembangan prasarana wilayah : transportasi dan bendungan ;

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lebak, RTRW Kabupaten Lebak mempunyai tujuan mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Lebak yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, perlu menetapkan strategi dan kebijakan penataan ruang di Kabupaten Lebak.
Strategi perencanaan tata ruang Kabupaten Lebak mengacu pada arahan struktur ruang wilayah nasional, provinsi Banten, pengaruh kawasan pantura Provinsi Banten dan Rencana Strategis Kabupaten Lebak. Arahan pemanfaatan ruang tersebut dituangkan kedalam perencanaan struktur dan pola ruang wilayah.
Menurut arahan RTRW Nasional dan Provinsi Banten, Kabupaten Lebak bersama-sama dengan Kabupaten Pandeglang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) pada Wilayah Kerja Pembangunan 3 (WKP 3) yang mendukung Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Bojonegara-Merak-Cilegon (BMC) sebagai Kota Pelabuhan Nasional di Kota Cilegon.  Adapun Perencanaan Pengembangan wilayah Kabupaten Lebak berdasarkan arahan tersebut diarahkan pada :
1.    Sektor unggulan yang menujang wilayah ini adalah pertanian, pertambangan dan pariwisata.
2.    Pusat-pusat utama di Kabupaten Lebak adalah Kota Rangkasbitung sebagai PKL dan Kota Maja sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi.
3.    DAS Ciujung dan Ciberang sebagai elemen pendukung konservasi air bersih (menetapkan Kabupaten Lebak sebagai Kawasan Hijau)
4.    Sistem jaringan transportasi utama adalah jaringan jalan raya (kolektor primer) Rangkasbitung – Serang, Maja – Cikande, Labuan – Malingping – Bayah dan Rangkasbitung/Maja – Cipanas – Jasinga.
Selanjutnya berdasarkan nilai-nilai strategis yang dimiliki Provinsi Banten di wilayah Pantura (Cilegon, Serang Tangerang) dan kedekatan dengan Jakarta sebagai ibukota negara, Kabupaten Lebak diarahkan pada :
1.    Peran Kawasan Pantura terhadap perkembangan Kabupaten Lebak, berdampak pada minat investasi swasta di Kecamatan Maja untuk mengembangkan dan membangun perumahan dan permukiman pada area sekitar ± 6.000 Ha.
2.    Dukungan sistem transportasi jaringan jalan raya yang cukup baik antara Rangkasbitung dan Serang, serta antara Kecamatan Maja dan Cikande di Kawasan Pantura.
3.    Prasarana dan sarana lingkungan perkotaan di Kota Rangkasbitung dan Maja yang cukup memadai, maka kedua kota tersebut cenderung menjadi pusat-pusat utama di Kabupaten Lebak yang berorientasi di Kawasan Pantura.

A.    Rencana Struktur Ruang
Untuk mendukung arah pengembangan wilayah Kabupaten Lebak tersebut di atas, Pemerintah Kabupaten Lebak menerapkan konsep pengembangan tata ruangnya dengan menyusun perencanaan struktur dan pola ruang. Pengembangan suatu wilayah tentunya harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan spasial serta strategi pengembangan yang cukup baik. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan yang terjadi kemudian tidak menimbulkan masalah terhadap ruang yang ada. Oleh karena itu dengan didasari oleh pertimbangan-pertimbangan di atas maka diharapkan bahwa perkembangan yang terjadi di wilayah Kabupaten Lebak dapat memberikan pelayanan yang seefektif mungkin ke seluruh bagian wilayah, sehingga tingkat kesenjangan dapat dikurangi melalui rangsangan penjalaran perkembangan wilayah secara merata.
Berdasarkan intensitas dan frekwensi kegiatan yang terjadi saat ini serta kelengkapan infrastruktur wilayah, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur ruangnya terbagi kedalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang.

Wilayah Pengembangan Utama
Wilayah Pengembangan Utama memiliki aglomerasi kegiatan perkotaan dengan peran sebagai pusat dan pendorong pertumbuhan wilayah lainnya, hal ini disebabkan karena kegiatan perekonomian yang ada di wilayah ini terkait dengan sistem perekonomian regional dan memiliki basic ekonomi (keunggulan komperatif) untuk membangkitkan perekonomian daerah tersebut beserta daerah sekitarnya.
Wilayah ini memiliki fungsi sebagai penggerak utama roda perekonomian Kabupaten Lebak, dimana dengan fungsi tersebut diharapkan akan dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan wilayah sekitarnya (trickle down effect). Selain itu dengan melihat faktor lokasi dan kelengkapan sarana maupun prasarananya telah menjadikan wilayah ini sebagai pusat koleksi dan distribusi bagi wilayah belakangnya serta menjadikan pintu gerbang interaksi bagi daerah lainnya. Wilayah Pengembangan Utama di Kabupaten Lebak terdiri dari 4 Wilayah Pengembangan sebagai berikut:
1.    Wilayah Pengembangan Utama Rangkasbitung, yang meliputi Kecamatan Rangkasbitung, Kecamatan Kalanganyar dan Kecamatan Cibadak, dengan pusat pengembangan terletak di Kota Rangkasbitung.
2.    Wilayah Pengembangan Utama Maja, meliputi Kecamatan Maja, Kecamatan Curugbitung dan Kecamatan Sajira dengan pusat pengembangan terletak di Kota Maja
3.    Wilayah Pengembangan Utama Malingping, meliputi Kecamatan Malingping, dan Kecamatan Wanasalam, Kecamatan Cijaku dengan pusat pengembangan terletak di Kota Malingping.
4.    Wilayah Pengembangan Utama Bayah, meliputi Kecamatan Bayah, Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Cilograng dengan pusat pengembangan terletak di Kota Bayah.

Wilayah Pengembangan Penunjang
Wilayah Pengembangan Penunjang berperan sebagai daerah yang mendukung pertumbuhan wilayah utama, wilayah ini terletak di sebelah Tengah dan Selatan dari Kabupaten Lebak dengan dominasi kegiatan ekonomi sebagai pusat produksi pertanian, peternakan, perikanan, hutan dan pertambangan.
Wilayah Pengembangan Penunjang di Kabupaten Lebak terdiri dari 5 (lima) Wilayah Pengembangan sebagai berikut:
1.    Wilayah Pengembangan Penunjang Cimarga, yang meliputi Kecamatan Cimarga, Kecamatan Warunggunung dan Kecamatan Cikulur dengan pusat pengembangan berada di Kecamatan Cimarga
2.    Wilayah Pengembangan Penunjang Cipanas, meliputi Kecamatan Cipanas, Kecamatan Sobang, Kecamatan Lebak Gedong dan Kecamatan Muncang dengan pusat pengembangan berada di Kota Cipanas.
3.    Wilayah Pengembangan Penunjang Leuwidamar, meliputi Kecamatan Leuwidamar, Kecamatan Cirinten dan Kecamatan Bojongmanik dengan pusat pengembangan terletak di Kota Leuwidamar.
4.    Wilayah Pengembangan Penunjang Gunung Kencana, meliputi Kecamatan Gunung Kencana, Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Cileles dengan pusat pengembangan terletak di pusat Kecamatan Gunung Kencana.
5.    Wilayah Pengembangan Penunjang Panggarangan, meliputi Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cigemblong dan Kecamatan Cihara dengan pusat pengembangan terletak di pusat Kecamatan Panggarangan.
Selain membagi wilayah Kabupaten Lebak kedalam Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang, Perencanaan struktur pemanfaatan ruang mengembangkan juga sistem permukiman yang dibagi kedalam :

a.    Sistem Permukiman Perdesaan
Pusat permukiman perdesaan merupakan pusat terkonsentrasinya penduduk dengan kelengkapan fasilitas yang cukup memadai pada suatu daerah, biasanya pusat permukiman perdesaan cenderung berada di pusat-pusat kecamatan atau pada desa-desa pusat pertumbuhan dengan dominasi kegiatan di bidang pertanian. Pusat permukiman di Kabupaten Lebak ini diarahkan di Desa Candi, Kopi, Mekarjaya, Kebon Cau, Jampang, Simpang, Gardu Batok, Kadubitung, Bujal, Sajira, Ciparasi, Ciusul, Cirotan, Cibareno, Sawarna, Sobong, Gardu, Sareweh, Pasar Kupa, Cikaret, Suka Hujan, Lebaksiuh, Kerta dan Desa Pasir Binuangan.

b.    Sistem Permukiman Perkotaan
Sistem Permukiman Perkotaan merupakan suatu pusat permukiman yang diarahkan sebagai pusat pelayanan ekonomi, pemerintahan dan jasa untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri maupun wilayah sekitarnya. Wilayah-wilayah yang mempunyai karakteristik tersebut di atas adalah Ibukota Rangkasbitung, Ibukota Kecataman Maja, Ibukota Kecataman Malingping dan Ibukota Kecamatan Bayah.

B.    Rencana Pola Ruang
Secara umum rencana pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budi daya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah 97.222 ha (31,93 %) dan 207.246 ha (68,07). Lihat tabel 2.72 dan tabel 2.73 mengenai Rencana Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Lebak.
Berdasarkan pada kondisi-kondisi tersebut di atas, Pola ruang  di wilayah Kabupaten Lebak dapat digambarkan sebagai berikut :
1.    Besarnya potensi kawasan lindung dan kawasan tangkapan air dari beberapa hulu sungai yang merupakan potensi sumberdaya air untuk Kabupaten Lebak dan daerah sekitarya.
2.    Perkembangan kawasan-kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan yang memerlukan keterpaduan dan keserasian hubungan antara fungsi kota dan desa.
3.    Tersebarnya daerah rawan bencana dan cukup luasnya daerah kritis.
4.    Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya alam seperti pertanian, pertambangan, pariwisata dan sumber daya yang lainnya.
Oleh karena itu, kebijakan pengembangan pemanfaatan ruang di Kabupaten Lebak yang dituangkan ke dalam strategi pengembangan pola ruang adalah sebagai berikut :

Strategi Penetapan Kawasan Lindung
Untuk menjamin kelestarian dan keseimbangan pengelolaan sumber daya alam, maka strategi penetapan kawasan lindung di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut :
a.    Mempertahankan kawasan lindung yang ada.
b.    Menetapkan kawasan lindung di Kabupaten Lebak yang terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat kawasan suaka alam dan cagar budaya, serta kawasan, rawan bencana.
c.    Pengelolaan kawasan lindung untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup.
d.    Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan lindung melalui kegiatan pemantauan, pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang dikawasan lindung.

Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya
Strategi pengembangan kawasan Budidaya di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut:
a.    Tiap-tiap kawasan diarahkan bagi suatu kegiatan budaya yang sesuai dengan daya dukung kawasan dan daya tampung kawasan.
b.    Pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Lebak diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah, lahan kering, permukiman, industri, pertambangan dan pariwisata.
c.    Penetapan skala prioritas dalam kegiatan penataan ruang kawasan budidaya, sehingga lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan.
d.    Pengendalian pemanfaatan ruang pada suatu kawasan antar kawasan sehingga tidak terjadi konflik kepentingan pengembangan pada suatu kawasan.

Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah
Strategi pengembangan pengembangan prasarana Wilayah Kabupaten Lebak adalah meningkatkan dan mempertahankan fungsi prasarana Wilayah dalam menunjang pengembangan wilayah, khususnya dalam menunjang pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak.  Strategi ini dilakukan untuk membentuk pemanfaatan ruang Kabupaten lebak yang terdiri dari :

a.    Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Transportasi sebagai berikut :
    Prasarana transportasi yang akan dikembangkan di Kabupaten Lebak adalah Perhubungan darat yang terdiri dari jalan raya dan kereta api serta perhubungan laut yang terdiri dari  perhubungan laut khususnya bagi kebutuhan pengembangan perikanan laut.
    Pengembangan jaringan jalan raya yang menghubungkan wilayah utara dan selatan.
    Pengembangan angkutan kereta api untuk angkutan masal dan angkutan barang.
    Mengembangkan pelabuhan ikan.
b.    Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Pengairan sebagai berikut :
Mengembangkan sistem pengairan yang terdapat di Kabupaten Lebak untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan non pertanian melalui pemanfaatan air permukaan maupun air tanah yang tersebar di Kabupaten Lebak.
c.    Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Energi sebagai berikut :
Mengembangkan potensi energi yang ada untuk memenuhi kebutuhan wilayah utara dan selatan, serta pengembangan energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi wilayah tengah.
d.    Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Telekomunikasi sebagai berikut :
Mengembangkan dan mengarahkan Sistem telekomunikasi yang ada dalam menunjang pengembangan hubungan antara wilayah utara dengan wilayah selatan, serta dalam mendukung upaya pengembangan pariwisata.

Sinergitas dan Sinkronisasi Program Kewilayahan dan Program Sektoral
Dengan pertimbangan kebijakan pola tata ruang dan struktur ruang serta memperhatikan permasalahan ketimpangan pembangunan antar wilayah di atas, maka perlu ada sinergitas antara program-program kewilayahan dengan program-program prioritas pembangunan yang bersifat sektoral.  Sinergitas kedua program tersebut dapat dilaksanakan pada wilayah sasaran sebagai berikut :

a.    Desa/ Kecamatan Pusat Pertumbuhan
Desa Pusat Pertumbuhan adalah desa yang menjadi simpul jasa dan simpul distribusi dari desa-desa di sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat Pertumbuhan diharapkan dapat menjadi pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat Pertumbuhan harus merupakan kegiatan pengembangan ekonomi daerah yang berbasis pada potensi lokal serta mempertimbangkan keterkaitan dengan perkembangan wilayah sekitarnya.

b.    Desa Budaya Lebak
Desa Budaya Lebak adalah desa khas yang ditata untuk kepentingan pelestarian budaya. Kekhasan tersebut bisa berupa kampung adat atau rumah adat. Pelaksanaan pembangunan daerah harus senantiasa memperhatikan aspek budaya yang merupakan bagian dari modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi sebuah potensi pembangunan. Salah satu upaya pelestarian budaya khas Lebak adalah dengan memfokuskan pembangunan di desa-desa budaya Lebak. Beberapa Desa Budaya di Lebak antara lain Desa Kanekes dengan Wisata Baduynya, Desa atau lebih populer Kasepuhan Citorek, Cisungsang dan Cibedug yang terletak di Kecamatan Cibeber.

c.    Desa Tertinggal
Desa Tertinggal adalah desa yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan desa lain dalam suatu wilayah tertentu. Ketertinggalan suatu wilayah tentu harus segera dikurangi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Tertinggal ini dititikberatkan pada pemenuhan sarana dan prasarana dasar permukiman serta pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat seperti akses terhadap pendidikan dasar dan kesehatan dasar. Berdasarkan identifikasi Desa Tertinggal oleh BPS dan Bappeda Kabupaten Lebak pada tahun 2005 terdapat 148 Desa Tertinggal yang secara bertahap setiap tahunnya sampai dengan tahun 2008 terus dilakukan pengurangan melalaui berbagai program percepatan daerah tertinggal. Mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada maka pembangunan desa tertinggal akan difokuskan pada 10 desa tertinggal setiap tahunnya.

d.    Kota Pusat Pertumbuhan di WPU dan WPP
Kota Pusat Pertumbuhan atau Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah kota sebagai pusat jasa, pusat pengolahan, dan simpul transportasi yang berskala regional. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak, rencana pengembangan sistem kota-kota di Lebak yang berkaitan dengan penataan distribusi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) untuk mendukung keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah adalah meliputi :
    Wilayah Pengembangan Utama (WPU) Rangkasbitung, Maja, Malingping dan Bayah
    Wilayah Pengembangan Penunjang (WPP) Cimarga, Cipanas, Leuwidamar, Gunung Kencana dan Panggarangan.
Kegiatan pembangunan yang dilakukan di Kota Pusat Pertumbuhan dititikberatkan peningkatan pusat pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur ibukota kecamatan.

e.    Daerah Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana di Kabupaten Lebak dikategorikan ke dalam 2 kawasan, yaitu kawasan potensi rawan bencana gerakan tanah dan kawasan potensi rawan bencana banjir. Berdasarkan zonasi kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi, maka potensi kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Lebak seluas 1.300 ha (0,95 % dari luas total Kabupaten Lebak). Rencana sebaran kawasan rawan bencana alam terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Bayah, Kecamatan Bojongmanik, dan Kecamatan Leuwidamar. Pada daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi masih mungkin terdapatnya daerah lanyak huni, sedangkan pada daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah rendah masih memungkinkan terjadinya gerakan tanah dalam ukuran kecil. Untuk daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah diperlukan penelitian geologi teknik yang lebih rinci apabila akan dilakukan pemanfaatan ruang di daerah ini.
Sedangkan Kawasan rawan bencana banjir sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk permukiman, demikian pula kegiatan lain yang dapat merusak atau mempengaruhi kelancaran sistem drainase.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s